Minggu, 19 April 2015

Tugas Pragmatik 3 Deiksis Nama kelompok : *Maria Ulfa *Nihana Dinda Maghfiroh

ANALISIS PERCAKAPAN BERDASARKAN DEIKSIS

Toni sedang bertamu di rumah temannya, Andi, selepas dari mengantar kakaknya ke station.
Andi     : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni     : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi     : “besok aku di sini saja nememani kakek.”
(kakek keluar dari kamar)
Kakek   : ”ooo…nak Toni, bagaimana kabarnya?
Toni     : “Alhamdulillah, kabar saya baik kek.”

Berdasarkan konsep deiksis, tentukan jenis-jenis deiksis yang digunakan dan hubungan jaraknya dari percakapan di atas!
1. Dieksis Persona
a.
Andi     : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni     : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Dalam percakapan Andi dan Toni diatas, terdapat penggunaan deiksis persona proksimal (hubungannya dekat). Karena dalam percakapan tersebut, Toni dan Andi memakai kata ganti Aku dan Kamu . Kata Aku dan Kamu apabila dilihat dari konteksnya, berada di tingkatan paling atas dalam kata ganti yaitu hubungan dekat ( proksimal ).

b.      Penggunaan kata “ibuku” oleh Toni  juga mengandung deiksis, yaitu deiksis persona distal, karena “ibuku”  tidak sedang terlibat dalam percakapan tersebut.

c. 
Andi     : “besok aku di sini saja nememani kakek.”
(kakek keluar dari kamar)
Dalam tuturan Andi diatas, terdapat deiksis persona distal, karena pada saat tuturan itu dilontarkan, kakek belum berada di tempat berlangsungnya percakapan. Kakek baru muncul dari kamar ketika tuturan itu selesai disampaikan oleh Andi.

 d.       
Kakek   : ”ooo…nak Toni, bagaimana kabarnya?
Toni     : “Alhamdulillah, kabar saya baik kek.”
Dalam percakapan Kakek dan Toni diatas, terdapat penggunaan deiksis persona distal (hubungannya jauh). Karena dalam percakapan tersebut, Toni memakai kata ganti saya untuk menyebut dirinya,  dan Kakek memanggil Toni dengan sebutan “nak Toni” . Kata Saya dan nak Toni apabila dilihat dari konteksnya, berada di tingkatan paling bawah dalam kata ganti yang berarti menunjukkan hubungan yang jauh antara penutur dan petutur.

2.      Deiksis Tempat
a.      Dalam percakapan diatas, Andi berkata “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?” kata Surabaya yang diucapkan penutur merupakan dieksis distal (jauh dari penutur dan petutur). Kata Surabaya dikatakan dieksis distal karena percakapan dilakukan dirumah Andi yang bukan di Surabaya, dan Surabaya jaraknya jauh dari penutur  maupun petutur. Surabaya juga bisa dikatakan “disana” dalam artian tidak dapat dilihat oleh penutur maupun petutur (diluar jangkauan pandangan). Oleh karenanya dapat dikatakan deiksis Spasial Distal.

b.      Dalam percakapan diatas, Toni berkata “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?” kata kampus yang diucapkan penutur merupakan dieksis distal (jauh dari penutur dan petutur). kampus juga bisa dikatakan “disana” dalam artian tidak dapat dilihat oleh penutur maupun petutur (diluar jangkauan pandangan). Oleh karenanya dapat dikatakan deiksis Spasial Distal.

c.       Dalam percakapan diatas, Andi berkata “besok aku di sini saja nememani kakek.” kata di sini yang diucapkan penutur merupakan dieksis spasial proksimal (objek yang dianggap dekat oleh pembicara dan dapat dilihat secara langsung). Kata disini dikatakan dieksis distal karena percakapan dilakukan dirumah Andi yang dapat dirasakan secara langsung yang dimaksud dengan disini.. Oleh karenanya dapat dikatakan deiksis Spasial Proksimal.

3.      Deiksis Waktu
a.       
Andi     : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Dari tuturan di atas terdapat kata “kemarin” yang menunjukkan Deiksis Waktu Distal (jauh) karena  terjadi  pada waktu lampau (telah berlalu)

b.       
Toni     : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi     : “besok aku di sini saja nememani kakek.”
Dari tuturan di atas terdapat kata “besok”  yang menunjukkan Deiksis Waktu Distal (jauh) karena  terjadi pada waktu yang akan datang (belum terjadi)

4.      Dieksis Tata Bahasa
Dari percakapan diatas dapat disimpulkan bahwa menggunakan deiksis tata bahasa proksimal dan menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan diatas terjadi secara langsung dan bertatap muka.

Ibu bercerita tentang masa mudanya dulu kepada Intan, putri tercintanya.
Ibu       : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Intan    : “waaah, ibu keren. Sudah mendaki ke gunung mana saja bu?”
Ibu       : “Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa.”
Intan    : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”

Berdasarkan konsep deiksis, tentukan jenis-jenis deiksis yang digunakan dan hubungan jaraknya dari percakapan di atas!

1.      Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada tuturan Intan dan ibunya.
Intan    : “waaah, ibu keren. Sudah mendaki ke gunung mana saja bu?”
Ibu       : “Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa.”
Intan    : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
·         Dalam percakapan diatas ibu dan anak tampak sangat akrab, sehingga  termasuk kedalam  deiksis persona  proksimal. Pada tuturan “bu” dan “nak” merupakan kata ganti orang kedua.
·         Sedangkan penutur yang menyebut dirinya sendiri langsung dengan nama, juga menunjukkan adanya penggunaan deiksis persona proksimal, karena setara / sama saja dengan menyebut “aku” sebagai kata ganti orang pertama.

2.    Deiksis  tempat
Dalam percakapan diatas, Ibu berkata “Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa.” kata yang diucapkan penutur merupakan dieksis distal (jauh dari penutur dan petutur). Kata Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru dikatakan dieksis distal karena jaraknya jauh dari penutur  maupun petutur, dan tidak dapat dilihat oleh penutur maupun petutur (diluar jangkauan pandangan). Oleh karenanya dapat dikatakan deiksis Spasial Distal.

3.    Dieksis Waktu

a.       Ibu  : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Dari tuturan di atas terdapat kata “dulu waktu masih muda” yang menunjukkan Deiksis Waktu Distal (jauh) karena  terjadi  pada waktu lampau (telah berlalu)

b.      Intan    : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
Dari tuturan di atas terdapat kata “nanti kalau sudah besar” yang menunjukkan Deiksis Waktu Distal (jauh) karena  terjadi  pada waktu yang akan datang (belum terjadi)

4.      Dieksis Tata Bahasa
Dari percakapan diatas dapat disimpulkan bahwa menggunakan deiksis tata bahasa proksimal dan menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan diatas terjadi secara langsung dan bertatap muka.

Terjadi pertengkaran di kelas bahasa yang berujung pada pemberian hukuman untuk semua siswa kelas bahasa tanpa terkecuali.
Firman             : “andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena  jemur di lapangan.”
Puji                  : “dia memang trouble maker, badannya saja besar, tapi cengeng.”
Andri               : “yang lebih apes itu aku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikutan dijemur.”
Pak Dian          : “Kepanasan? Sudah kapok belum?
Siswa               : “mendidih pak, kita sudah kapok pak.”
Pak Dian          : “ ya sudah. Sekarang, semua kembali ke kelas. Ingat, jangan diulangi lagi.”
Siswa               : “ya pak, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Berdasarkan konsep deiksis, tentukan jenis-jenis deiksis yang digunakan dan hubungan jaraknya dari percakapan di atas!

1.      Dieksis Persona
a.       
Firman        : “andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena  jemur di lapangan.”
Puji             : “dia memang trouble maker, badannya saja besar, tapi cengeng.”
Andri          : “yang lebih apes itu aku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikutan dijemur.”

Dalam percakapan Firman, Puji, dan Andri diatas, terdapat penggunaan deiksis persona proksimal (hubungannya dekat). Karena dalam percakapan tersebut, Firman, Puji, dan Andri memakai kata ganti Aku untuk menyebut dirinya. Sedangkan untuk menyebut Doni, mereka langsung memakai nama “Doni” dan juga dia. Ini menunjukkan adanya hubungan yang dekat, dan menggunakan dieksis persona proksimal.

b.       
Siswa          : “mendidih pak, kita sudah kapok pak.”
Pak Dian     : “ ya sudah. Sekarang, semua kembali ke kelas. Ingat, jangan diulangi lagi.”
Siswa          : “ya pak, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Dalam percakapan Siswa, dan Pak Dian diatas, terdapat penggunaan deiksis persona distal (hubungannya jauh). Karena dalam percakapan tersebut, siswa memakai kata ganti Pak, dan kami. Sedangkan untuk menyebut siswa, Pak Dian memakai kata ganti semua. Ini menunjukkan adanya hubungan yang jauh, dan menggunakan dieksis persona distal.

2.      Dieksis Tempat
a.       
Firman             : “andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena  jemur di lapangan.”
Dalam tuturan diatas, kata di lapangan yang diucapkan penutur merupakan dieksis spasial proksimal (objek yang dianggap dekat oleh pembicara dan dapat dilihat secara langsung). Kata lapangan dikatakan dieksis distal karena percakapan dilakukan lapangan yang dapat dirasakan secara langsung. Oleh karenanya dapat dikatakan deiksis Spasial Proksimal.

b.       
Andri           : “yang lebih apes itu aku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikutan dijemur.”

Dalam tuturan diatas, kata kelas dan perpus yang diucapkan penutur merupakan dieksis distal (jauh dari penutur dan petutur). Kata kelas dan perpus dikatakan dieksis distal karena percakapan dilakukan di lapangan. kelas dan perpus jaraknya jauh dari penutur  maupun petutur dan tidak dapat dilihat oleh penutur maupun petutur (diluar jangkauan pandangan). Oleh karenanya dapat dikatakan deiksis Spasial Distal.

c.        
Pak Dian : “ ya sudah. Sekarang, semua kembali ke kelas. Ingat, jangan diulangi lagi.”
Dalam tuturan diatas, kata kelas yang diucapkan penutur merupakan dieksis distal (jauh dari penutur dan petutur). Kata kelas dikatakan dieksis distal karena percakapan dilakukan di lapangan. kelas jaraknya jauh dari penutur  maupun petutur dan tidak dapat dilihat oleh penutur maupun petutur (diluar jangkauan pandangan). Oleh karenanya dapat dikatakan deiksis Spasial Distal.

3.      Dieksis Waktu
a.       
Pak Dian          : “Kepanasan? Sudah kapok belum?
Siswa               : “mendidih pak, kita sudah kapok pak.”
Dari percakapan di atas terdapat kata “sudah” yang menunjukkan Deiksis Waktu Distal (jauh) karena  terjadi  pada waktu lampau (telah berlalu)

b.       
Pak Dian          : “ ya sudah. Sekarang, semua kembali ke kelas. Ingat, jangan diulangi lagi.”
Dari tuturan di atas terdapat kata “sekarang” yang menunjukkan Deiksis Waktu proksimal (dekat) karena  terjadi  pada waktu saat itu juga.

c.        
Siswa          : “ya pak, kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Dari tuturan di atas terdapat kata “tidak akan” yang menunjukkan Deiksis Waktu Distal (jauh) karena  terjadi  pada waktu yang akan datang / suatu hari (belum terjadi).

4.      Dieksis Tata Bahasa
Dari percakapan diatas dapat disimpulkan bahwa menggunakan deiksis tata bahasa proksimal dan menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan diatas terjadi secara langsung dan bertatap muka.

Tugas Pragmatik 2 Jenis-jenis tindak tutur oleh Austin & Searle dan Searle Nama kelompok : *Maria Ulfa *Nihana Dinda Maghfiroh

Berdasarkan konsep pragmatik dan klasifikasi tindak tutur, analisislah percakapan yang terjadi dibawah ini dengan menentukan : Jenis-jenis tindak tutur yang digunakan oleh para penutur dalam percakapan sebagaimana yang disampaikan Austin & Searle dan Searle

a. Hari Minggu sore, Andi dan teman-teman berkumpul di rumah Rahmat. Mereka sudah
lama tidak saling jumpa setelah masing-masing melanjutkan studi di kota yang berbeda.

Andi            : “Jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji.”
Heru           : “hmmmm…..apa enaknya? Enakan ke rental PS.”
Rohmat      : “semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi Sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor. “
Poniran       : “sudah. Kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”

Dari percakapan di atas, kita dapat mengklasifikasikan bentuk-bentuk tuturan ke dalam bentuk klasifikasi, baik menurut konsep Austin & Searle maupun Searle. Secara makna dan tujuan tuturan
Tuturan yang disampaikan oleh Andi, menurut konsep tindak tutur Austin & Searle masuk ke dalam jenis tindak tutur perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah Andi.
Di dalam tuturan tersebut, Andi menyampaikan perasaannya, Andi ingin makan durian di Sekartaji. Dengan tuturan tersebut Andi ingin berbagi tentang bagaimana perasaannya pada teman-temannya (Heru, Rahmat, Poniran) dan menginginkan teman-temannya merasakan keinginannya memakan durian. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Andi sebagai berikut:

“Jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji.”

Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan Andi, masuk ke dalam tindak tutur direktif, yaitu sebuah tindak tutur yang menuntut untuk melakukan sesuatu. Andi sedang mengungkapkan perasaannya yang ingin makan durian di Sekartaji kepada teman-temannya dan menginginkan agar mereka mau melakukan apa yang di inginkannya.
Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Heru masuk ke dalam jenis perlokusi, di dalam tuturan tersebut, Heru menanggapi ucapan Andi dengan ketidak setujuan terhadap keinginan Andi, setelah itu dia menyampaikan apa yang dia inginkan. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Heru sebagai berikut:

“hmmmm…..apa enaknya? Enakan ke rental PS.”

Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Heru termasuk ke dalam jenis ekspresif, yaitu tuturan yang bertujuan untuk mengevaluasi atau mengomentari suatu hal, yang mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan tertentu yang mungkin disebabkan oleh sesuatu yang dilakukan atau menyangkut pengalaman penutur . Di dalam tuturan tersebut, Heru menyampaikan apa yang dirasakannya dengan mengomentari keinginan Andi yang kurang diminatinya. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Heru sebagai berikut:

“hmmmm…..apa enaknya?Enakan ke rental PS.”

Menurut klasifikasi Austin, tuturan yang disampaikan oleh Rohmat masuk ke dalam jenis lokusi, yaitu setiap tuturan yang hanya menekankan pada pemberian informasi.Di dalam tuturan tersebut, Rohmat menyampaikan bahwa ibunya sedang sakit dan ayahnya belum bisa pulang, sehingga dia tidak bisa pergi dengan teman-temannya. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Rohmat sebagai berikut:

“semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor. “

Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Rohmat masuk ke dalam tindak tutur jenis representatif, yaitu tuturan yang menyatakan informasi yang tidak terbantahkan, seperti fakta, penegasan, kesimpulan, pendeskripsian. Di dalam tuturan tersebut, Rohmat menyampaikan bahwa ibunya sedang sakit sedangkan ayahnya masih belum bisa pulang dikarenakan lembur di kantor. Pernyataan tersebut menyatakan suatu fakta bahwa ibunya memang sedang sakit dan ayahnya masih ada pekerjaan kantor yang mengharuskan ayahnya untuk lembur di kantor. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Rohmat sebagai berikut:

 “Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur di kantor. “

Menurut klasifikasi Austin, tuturan yang disampaikan oleh Poniran masuk ke dalam jenis ilokusi, yaitu tuturan yang menginginkan sebuah tindakan dari penutur. Di dalam tuturan tersebut, Poniran memberi solusi kepada teman-temannya dengan menyampaikan pendapatnya untuk tetap berkumpul di rumah Rohmat sembari menemani Rohmat menjaga ibunya yang sakit. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Poniran sebagai berikut:

“Sudah, kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”

Sedangkan dalam konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Poniran, masuk ke dalam tindak tutur direktif, merupakan tuturan yang menuntut untuk melakukan sesuatu. Yang dimana Poniran mengungkapkan perasaannya yang mengajak teman-temannya untuk tetap berkumpul di rumah Rohmat sambil menemani Rohmat menjaga ibunya. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Poniran sebagai berikut:

“Sudah, kita di sini saja sambil nemenin Rohmat.”

b. Di ruang J6, Para mahasiswa sedang memperhatikan penjelasan dari dosen tentang
salah satu metode pembelajaran.
(sembari berbisik, Bejo dan Retno berbincang seputar pelajaran yang mereka terima)
Bejo     : “ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-pahamya. “
Retno  : “yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak.Tapi pasti bisa.Semangat!”
Dosen  : “untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian.”
Bejo     : “aduh! Matiaku.Baca lagi-bacalagi.Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai.”

Dari percakapan di atas, kita dapat mengklasifikasikan bentuk-bentuk tuturan ke dalam bentuk klasifikasi, baik menurut konsep Austin & Searle maupun Searle. Secara makna dan tujuan tuturan
Tuturan yang disampaikan oleh Bejo, menurut konsep tindak tutur Austin & Searle masuk ke dalam jenis tindak tutur perlokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Di dalam tuturan tersebut, Bejo menyampaikan keluh kesahnya dalam memahami materi dalam perkuliahannya. Dalam tuturan tersebut Bejo ingin berbagi perasaannya pada Retno serta menginginkan Retno merasakan kesulitan yang dialaminya. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Bejo sebagai berikut:

“ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-pahamya.“

Sedangkan menurut tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo termasuk tindak tutur ekspresif  yaitu sebuah tindak tutur yang menyatakan perasaan psikologis yang dirasakan oleh penutur. Bejo mengungkapkan perasaan psikologis yang ia rasakan sebagai penutur. Bejo mengungkapkan perasaan psikologis yang ia rasakan karena ketidak pehamannya akan materi yang disampaikan oleh dosennya. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Bejo sebagai berikut:

“ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-pahamya.“

Menurut klasifikasi dari Austin dan Searle tuturan yang disampaikan oleh Retno. Masuk kedalam jenis perlokusi  yaitu tuturan yang menyatakan suatu perasaan kepada petutur. Dalam tuturan tersebut Retno merasakan kesulitan yang dialami Bejo. Retno menginginkan Bejo untuk tak putus asa dan tetap semangat untuk belajar. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Retno sebagai berikut:

 “yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak.Tapi pasti bisa.
Semangat!”

Sedangkan tindak tutur menurut Searle dalam tindak tutur ekspresif  yaitu sebuah tindak tutur yang mengevaluasi atau memerikan komentar terhadap Bejo untuk tetap berusaha dan tetap semangat belajar. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Retno sebagai berikut:

 “tapi pasti bisa.semangat !”

Menurut klasifikasi Austin & Searle tuturan yang disampaikan oleh dosen merupakan jenis tindak tutur ilokusi, yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu kepada petutur untuk melakukan sesuatu. Dosen menginginkan Bejo membaca buku yang ada diperpusktakaan untuk memahami materi. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Dosen sebagai berikut:

 “untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan.”

Menurut Searle tuturan yang disampaikan dosen merupakan jenis tindak tutur deklaratif yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu hal yang baru atau kondisi yang baru didengar oleh petutur. Dosen memberitahukan informasi kepada mahasiswa tentang study banding yang akan didampingi oleh bu Dian. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Dosen sebagai berikut:

 “satu hal lagi, untuk study banding ke bandung ibu dina yang akan mendampingi
mengantikkan pak dian.”

Menurut Austin & Searle tuturan yang disampaikan oleh Bejo termasuk jenis tindak tutur perlokusi,  yaitu tuturan yang menginginkan reaksi batin dari petutur. Bejo mengeluhkan perasaannya tentang kejenuhannya untuk membaca buku-buku terlalu banyak. Bejo menginginkan petutur juga merasakannnya. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Bejo sebagai berikut:

 “Aduh ! mati aku. Baca lagi- baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Belum tugas-tugas rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke bali, bersantai sambil berjemur dipantai.”

c. Di suatu sore, Wawan sedang asyik menonton acara tv kesukaannya, sedangkan ibunya sedang bekerja sendiri di dapur.
Ibu                : “Wan, apakahmu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”
Wawan         : “sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini.”
Ibu                : “kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan.
Wawan         : “iya bu. Maafkan Wawan.” (sambil beranjak dari depan tv menuju kedapur)

Dari percakapan di atas, kita dapat mengklasifikasikan bentuk-bentuk tuturan kedalam beberapa klasifikasi, baik menurut konsep Austin & Searle maupun menurut konsep Searle.
Secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan oleh Ibu, menurut konsep tindak tutur Austin & Searle, masuk kedalam jenis tindak tutur ilokusi, yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu kepada petutur untuk melakukan sesuatu tindakan dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah Wawan. Di dalam tuturan tersebut, Ibu menyampaikan kekesalnya pada Wawan yang asyik menonton tv saja, padahal ibu sedang sibuk .

Dengan tuturan tersebut Ibu ingin Wawan melakukan tindakan dengan cara membantunya didapur pada Wawan. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan ibu sebagai berikut:

“Wan, apakahmu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”

 Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Ibu, masuk kedalam bentuk tindak tutur Directif, yaitu sebuah tindak tutur yang dipakai untuk meminta, menyuruh, atau menyarankan petutur atau bahkan penutur sendiri untuk melakukan sesuatu sebagaimana yang diinginkan oleh penutur.

Ibu menuntut wawan melakukan sesuatu tindakan, sedangkan wawan dari tadi hanya asyik menonton didepan tv saja. Melalui tindak tutur tersebut ibu menuntut wawan untuk membantu pekerjaannya. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan ibu sebagai berikut:

“Wan, apakahmu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho.”

Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh wawan masuk kedalam jenis lokusi, yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu informasi kepada petutur.Dalam tuturan tersebut, wawan meyampaikan pada ibu bahwa acara tv tersebut sedang seru-serunya. Dia malas untuk beranjak pergi.untuk tidak putus asa dan terus semangat bekerja untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Wawan sebagai berikut:

“sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini.”

Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur wawan termasuk kedalam jenis
ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang menyatakan suatu perasaan psikologis yang dirasa oleh penutur. Wawan menyampaikan perasaannya, bahwa acara tv tersebut sedang bagus dan seru,dan ia masih malas tuk berajak pergi pada ibu. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Wawan sebagai berikut:

 “ Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini.”

Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh ibu masuk kedalam jenis ilokusi, yaitu yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu kepada petutur untuk melakukan sesuatu tindakan dari petutur.Di dalam tuturan tersebut, Ibu menyampaikan kekesalnya pada wawan yang engan membantu ibu yang tengah sibuk..Dengan tuturan tersebut Ibu ingin wawan segera membantunya didapur. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan ibu sebagai berikut:

 “kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan.”

Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh wawan masuk kedalam jenis lokusi, yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu informasi kepada petutur..Di dalam tuturan tersebut, Wawan menyampaikan kesediaannya untuk sesegera mungkin membantu ibu didapur. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Wawan sebagai berikut:

“iya bu. Maafkan Wawan.”

Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur wawan termasuk kedalam jenis ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang menyatakan suatu perasaan psikologis yang dirasa oleh penutur. Wawan menyampaikan perasaannya, bahwa ia merasa bersalah karena mengabaikan ibunya yang sedang sibuk sedangkan ia asyik menonton tv saja. Sebagaimana yang tampak di dalam tuturan yang disampaikan Wawan sebagai berikut:

 “iya bu. Maafkan Wawan.”


Sabtu, 18 April 2015

Minggu, 22 Maret 2015

TUGAS 1 PRAGMATIK



Buatlah sebuah analisis dari fenomena komunikasi yang terjadi di masyarakat berdasarkan kajian pragmatik yang sudah kita pelajari dengan menentukan :
Makna ucapan dan ekspresi yang tersirat.
Tuturan berdasarkan jarak hubungan antar persona penutur dan petutur.
Faktor penyebab kegagalan dalam proses decoding si petutur dalam dua percakapan, 3 dan 4.
Konteks apa saja yang melingkupi percakapan dibawah ini.

1.
A. Makna ucapan dan ekspresi yang tersirat.
Andi : Andi dan Rahmat telah melakukan hal diluar batas kewajaran.
Ekspresi : Menyesal.

Rahmat : Menenangkan Andi bahwa perbuatan mereka tidak akan diketahui karena tidak ada cctv yang merekam perbuatan mereka.
Ekspresi : Lega.

Andi : Andi ingin digendong Rahmat.
Ekspresi : Cemburu, iri.

Rahmat : Hendak mengatakan kalau Andi gemuk.
Ekspresi : Lucu, tertawa lepas.

B. Tuturan berdasarkan jarak hubungan antar persona penutur dan petutur.
Hubungan antara penutur dan petutur adalah persahabatan karena percakapan dilakukan dengan santai dan penuh canda.

C. ---------------

D. Konteks apa saja yang melingkupi percakapan diatas.
Settings (waktu, tempat, suasana)
Pulang menonton konser, perkotaan, melegakan
Participants (penutur & petutur/ penulis & pembaca)
Andi dan Rahmat
Ends (hasil percakapan & tujuan percakapan)
Bertujuan menenangkan Andi yang menyesal dan khawatir
Act sequence (bentuk dan isi amanat/pesan)
Nonformal , kita harus saling membantu antar sahabat.
Keys (cara yang digunakan)
Menggunakan candaan.
Norms (aturan norma)
Norma sosial
Genre (kategori bentuk dan ragam bahasa)
Modern, bahasa slang

2.
A. Makna ucapan dan ekspresi yang tersirat.
Petani A : Merasa tidak bersemangat
Ekspresi : Malas, lesu

Petani B : Menerima kenyataan atau takdir
Ekspresi : Pasrah

Petani C : Bangga karena petani merupakan pekerjaan paling berjasa untuk umat manusia, karena kalau tidak ada petani manusia tidak dapat makan nasi (mati kelaparan)
Ekspresi : Bangga, senang

Petani B : Merasa lebih beruntung dari yang lain karena para petani bisa bersantai sebelum bekerja
Ekspresi : Tenang, tersenyum kecil.

B. Tuturan berdasarkan jarak hubungan antar persona penutur dan petutur.
Hubungan mereka adalah rekan kerja.

C. ---------------
D. Konteks apa saja yang melingkupi percakapan diatas.
Settings (waktu, tempat, suasana)
Pagi hari, warung kecil, muram
Participants (penutur & petutur/ penulis & pembaca)
Petani A, Petani B, Petani C
Ends (hasil percakapan & tujuan percakapan)
Para petani merasa bersyukur atas pekerjaannya
Act sequence (bentuk dan isi amanat/pesan)
Nonformal, bersyukurlah dengan apapun yang kalian punya, begitu juga dengan pekerjaan.
Keys (cara yang digunakan)
Nasihat
Norms (aturan norma)
Norma agama
Genre (kategori bentuk dan ragam bahasa)
Bahasa Indonesia tidak baku.

3.
A. Makna ucapan dan ekspresi yang tersirat.
Mahasiswi : Ada sesuatu yang tertinggal
Ekspresi : Panik, Bingung

P.sayur : Menanyakan apa yang terjadi pada Mahasiswi
Ekspresi : Penuh tanya, penasaran

Mahasiswi : Menjelaskan bahwa RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) miliknya tertinggal di angkot sebelumnya
Ekspresi : Kecewa

P. sayur : Menghibur mahasiswi, bahwa barang yang hilang mungkin belum rezeki dan bisa beli lagi yang baru (penjual sayur tidak mengetahui kalau RPP tidak dibeli tapi dibuat)
Ekspresi : Tenang

Mahasiswi : Meng-iyakan kesalah pahaman tersebut
Ekspresi : Tersenyum geli

B. Tuturan berdasarkan jarak hubungan antar persona penutur dan petutur.
Hubungan petutur dan penutur adalah orang awam dan mahasiswi calon guru yang berpendidikan

C. Faktor penyebab kegagalan dalam proses decoding si petutur dalam percakapan 3.
Adanya perbedaan strata, antara orang awam dan mahasiswi. Rata-rata orang awam tidak mengetahui apa itu RPP, dan RPP dibuat bukan dibeli.

D. Konteks apa saja yang melingkupi percakapan diatas.

Settings (waktu, tempat, suasana)
Metromini, panik
Participants (penutur & petutur/ penulis & pembaca)
Mahasiswi dan penjual sayur
Ends (hasil percakapan & tujuan percakapan)
Menghibur hati mahasiswi
Act sequence (bentuk dan isi amanat/pesan)
Nonformal, berhati-hati dalam menyimpan barang, dan mengikhlaskan barang yang telah hilang
Keys (cara yang digunakan)
Nasihat
Norms (aturan norma)
Norma sosial, norma kesopanan, norma agama
Genre (kategori bentuk dan ragam bahasa)
Bahasa Indonesia baku.


4,
A. Makna ucapan dan ekspresi yang tersirat.
Anton : Menanyakan pekerjaan yang sedang digeluti Rudi
Ekspresi : Penasaran

Rudi : Rudi hendak mengatakan bahwa ia adalah seorang petani
Ekspresi : Tersenyum

Anton : Sedang bisnis tablet (bukan obat). Sebuah gadget yang sedang digemari saat ini
Ekspresi : Tersenyum

Rudi : Mengira Anton adalah dokter karena dia berbisnis tablet (tablet yang ada di pikiran Rudi adalah obat)
Ekspresi : Kaget, penuh tanya

Anton : Menjelaskan bahwa tablet yang dimaksud adalah HP.
Ekspresi : Tersenyum

B. Tuturan berdasarkan jarak hubungan antar persona penutur dan petutur.
Hubungan antara petutur dan penutur adalah kawan lama, orang kaya dan orang miskin.

C. Faktor penyebab kegagalan dalam proses decoding si petutur dalam percakapan 4.
Ada kesenjangan sosial antara Anton dan Rudi, rata-rata orang miskin tidak tahu-menahu tentang teknologi komunikasi masa kini.

D. Konteks apa saja yang melingkupi percakapan diatas.
Settings (waktu, tempat, suasana)
Saat di perjalanan, pedesaan, kangen
Participants (penutur & petutur/ penulis & pembaca)
Kawan lama
Ends (hasil percakapan & tujuan percakapan)
Mengetahui pekerjaan masing-masing
Act sequence (bentuk dan isi amanat/pesan)
Nonformal, berbicara dengan orang desa biasanya harus dijelaskan secara sederhana
Keys (cara yang digunakan)
Tanya-jawab
Norms (aturan norma)
Norma sosial
Genre (kategori bentuk dan ragam bahasa)
Bahasa Indonesia






Senin, 11 Agustus 2014

harapan harapan beku

Adakah sepenggal mimpi untukku?
Sekedar penjar dalam keluhku
Memanja pada hujan dilarut malam
Meminjam kehangatan pada doa bidadari dunia

Apa yang kuharapkan tentangmu bisikan sunyi?
Entah menyesatkanku tentang hari-hari

Apa yang kuketahui tentang esok?
Selain rahasia yang kan kudapati diranjang lelahku
Untuk menyapa fajar di kemudian waktu

Minggu, 10 Agustus 2014

HUJAN KEMARIN SORE



        Tetes-tetes air dari langit masih berjatuhan di kota Jombang. Nampaknya hujan masih enggan meninggalkan kota kecil itu. Di luar, tawa riang bocah-bocah kecil semakin menyemarakkan awal musim hujan tahun ini. Mereka menari kesana kemari, girang tak alang kepalang. Yang mereka tahu, ini adalah awal dari pesta tahunan mereka.

        Seorang gadis berwajah anggun hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Ia tersenyum getir. Wajah cantiknya tak dapat menutupi kesedihannya. Untuk kesekian kalinya, cairan hangat menuruni pipi manisnya. Memorinya kembali berputar. Mendorongnya dalam masa lalu yang kelam, yang hingga kini masih menyisakan kepedihan tersendiri untuknya.

        Sekitar sepuluh tahun yang lalu Shafa kecil yang usianya kurang lebih baru 8 tahun, harus menelan kenyataan yang pahit. Sebuah kecelakaan telah memisahkannya dengan orang yang paling di cintainya. Seperti biasa Ia dan ayahnya melakukan ritual tahunan, menikmati awal musim hujan dengan bermain obak delik di lapangan sebelah rumahnya. Kali itu ia yang jaga, ia berusaha menemukan sang ayah yang sedang bersembunyi, ia berjalan sampai kepinggir jalan raya, ia tak sadar bahaya mengintainya. Sebuah truk barang melintas dengan kecepatan tinggi di belakangnya. ayahnya yang mengetahui hal itu segera meninggalkan tempat persembunyiannya. Sang ayah berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwa putri semata wayangnya itu. Ya...  Shafa memang selamat, namun naasnya sang ayah sendiri yang menjadi korban kecelakaan. Ayah yang hari itu telah menjadi pahlawan bagi putrinya sendiri harus merelakan nyawanya. Ia meninggal seketika itu juga. Isi kepalanya pecah berantakan. Shafa yang melihat semua itu hanya bisa menjerit ketakutan. Ia menjerit sejadi-jadinya, menghampiri tubuh ayahnya yang telah tak bernyawa. Shafa menangis di atas dada sang ayah. Memeluknya erat dan berharap sebuah keajaiban akan datang dan menghidupkan kembali sang ayah. Ia masih saja menunggu ayahnya terbangun meskipun telah banyak warga sekitar yang membujuknya. Ia tak peduli dengan kerumunan orang yang semakin banyak saja. Tubuh mungilnya semakin melekat erat di dada ayahnya. Tangisnya pilu, memecah keheningan malam.
Daaaan... akhirnya semua terasa gelap seketika.

-------------------------------------------------------

        Sejak peristiwa itu, ia tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Ia merasa menjadi anak paling berdosa.
       
        “hemmmhh.... andai saja dulu aku tak mengajak ayah untuk menikmati awal musim hujan, pasti ayah masih di sampingku, pasti aku tak akan menghadapi masalah serumit ini” gumamnya dalam hati.

         Keadaan ekonomi keluarga gadis berjilbab ini juga semakin minim , karena ibunya hanya dapat berjualan gorengan , Shafa membantu menjualkan hasil olahan ibunya itu ke tempat ia bersekolah, tanpa malu ia menjajakan barang dagangannya kepada teman-temannya.

        Hari yang di lewatinya begitu-begitu saja. Selalu monoton. Setiap pagi bangun , shalat subuh , membantu ibunya menyiapkan dagangan, berangkat sekolah, dan kadang kalau dagangannya tak laku dijual di sekolah ia terpaksa harus pulang sore demi menghidupi keluarganya. Hidupnya semakin terasa membosankan. Hingga pada suatu pagi, seorang debt collector suruhan pak Darmaji datang. Shafa yang saat itu tengah menuntut ilmu , tak tahu apa-apa mengenai hal itu. Sebenarnya ibu Aminah ibu dari Shafa terpaksa berhutang kepada pak Darmaji untuk menutupi kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Uang yang dihasilkan dari penjualan gorengan hanya cukup untuk makan setiap hari. Sementara untuk membayar kebutuhan sekolah Shafa, Ibu Aminah terpaksa berhutang. Ia tak ingin putrinya itu putus sekolah. Ia tak ingin Shafa menjadi orang bodoh seperti dirinya. Ibu Aminah berusaha menutupi hutangnya dengan bekerja keras menjadi seorang buruh cuci para tetangganya. Namun apa daya, ia tetap tak mampu melunasi hutang-hutangnya kepada pak Darmaji. Kian hari bunganya kian menumpuk seperti tumpukan pakaian tetangganya yang harus ia cuci.  Sampai akhirnya, pak Darmaji memberikan solusi kepada ibu Aminah. Pak Darmaji menyarankan untuk menikahkan Shafa dengan Firman putra bungsu pak Darmaji. Dengan begitu, hutang ibu Aminah akan dinyatakan lunas. Namun bagaimanapun juga, hati seorang ibu tak akan rela melihat putri tercintanya menikah dengan seorang pemuda yang tak baik budi pekertinya. Namun ia harus benar-benar mempertimbangkannya , karena jika ia tak dapat melunasi hutangnya, rumah peninggalan almarhum suaminya akan disita.

        Dengan berat hati, ibu Aminah menceritakan hal itu pada Shafa. Shafa mendengarkan cerita ibunya dengan hati teriris, air matanya mulai meleleh di pipinya. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Sebenarnya ia sama sekali tak  ingin menikah dengan lelaki hidung belang seperti Firman. Siapa yang tak tahu Firman , preman kampung yang kerap membuat keonaran didesa tempat ia tinggal. Hati kecilnya berontak. Menjerit pilu. Seakan tertusuk jarum yang tajam. Pedih rasanya mengetahui semua itu. Ia ingin berlari dan berteriak sekencang-kencangnya. Ia ingin sekali menolak lamaran Firman. Harga dirinya seakan terjual jika ia terima lamaran pemuda brengsek itu. Bagaimana tidak, ia merasa tergadaikan dengan hutang-hutang keluarganya yang menumpuk. Namun jika ia tidak mau dinikahkan dengan Firman, maka ia akan kehilangan tempat tinggal. Dan untuk kedua kalinya ia akan merasa menjadi anak yang durhaka karena tidak mematuhi perintah orang tua.

        Shafa tak langsung menjawab pertanyaan ibunya, ia malah membalikkan tubuh semampainya. Berlari ke kamarnya dengan hati yang hancur. Mengunci pintunya rapat-rapat. Ia masih belum bisa menerima semua itu. Mata sipitnya terus saja mengeluarkan cairan bening. Seakan-akan, ia ingin mengeluarkan semua cairan bening itu dari dalam matanya. Agar tak ada kepedihan lagi yang dapat ia rasakan. Ia sudah cukup menderita selama ini.

        “Oh tuhaaannn... tak adakah belas kasihan-Mu untukku?”
        “tak cukupkah, derita yang kualami ini? . Tak cukup pulakah setiap sujudku selama ini? . Bukankah Engkau telah berjanji bahwa Engkau tak akan memberikan ujian yang hamba-Nya tak kuat untuk menanggungnya.”

        Orang bilang, kalau gelap telah mencapai puncaknya niscaya fajar akan segera tiba. Apa yang ia rasakan ini adalah puncak dari kegelapan? Atau ini baru senja yang masih sangat lama untuk menanti sang fajar. Ia tak tahu.

        2 hari setelah ibunya menyampaikan pesan pak Darmaji. Shafa masih belum juga mau keluar dari kamarnya. Ibu Aminah telah berulang kali meminta Shafa keluar dari kamarnya. Bahkan Ibu Aminah telah berjanji untuk menolak lamaran Firman. Ibu Aminah tak sampai hati  melihat putrinya tak bahagia dengan pernikahannya . Namun Shafa belum juga mau keluar dari kamarnya.

        Ibu Aminah teringat pada Yishaq Khaelany, sahabat karib Shafa Althafunnisa dari kecil. Ibu Aminah segera menemui Yishaq. Ia menceritakan semua yang terjadi pada keluarganya. Hati Yishaq hancur lebur demi mendengar penuturan dari Ibu Aminah. Ia memang merasa kasihan melihat keluarga sahabat dekatnya itu, namun yang lebih membuat hatinya hancur adalah mengetahui bahwa Shafa akan menikah dengan orang lain. Sebenarnya, Yishaq telah lama memendam cintanya untuk Shafa, ia tak berani mengungkapkan cintanya kepada Shafa. Yishaq takut akan merusak persahabatannya dengan Shafa.

        Setelah dirasa cukup jelas duduk perkaranya. Yishaq dan Ibu Aminah membujuk Shafa agar mau keluar dari kamarnya. Yishaq berjanji kepada Shafa bahwa ia akan membantu menyelesaikan masalahya. Akhirnya setelah cukup lama Yishaq berbicara. Shafa bersedia keluar dari kamarnya. Ibu Aminah merasa lega. Diam-diam Ibu Aminah menaruh simpati pada pemuda itu. Karena, setiap kali putrinya ngambek hanya dia obat paling mujarab untuk mengobati hati putrinya.

        “Fha, aku ini kan sahabatmu. Aku tak akan membiarkanmu menanggung beban yang begitu berat. Berbagilah denganku. Oh ya.. aku masih  punya tabungan sekitar 20 juta. Kamu pakai saja dulu. Aku belum membutuhkannya”. Kata Yishaq dengan tersenyum manis kepada Shafa.

        Shafa menunduk, ia malu pada Yishaq karena selalu merepotkannya. Iapun angkat bicara.

        “ Entahlah Shaq, aku malu. Aku selalu saja merepotkanmu”
        “ Sudahlah Fha, tak perlu kamu merasa sungkan”

        Hari itu juga, mereka pergi kerumah pak Darmaji. Melunasi semua hutang-hutangnya.

        Malam harinya , Yishaq mengajak Shafa jalan-jalan. Ia ingin menghibur Shafa.

        Shafa memulai pembicaraan. Ia ingin tahu , kenapa Yishaq sampai merelakan tabungannya demi menyelamatkannya dari lelaki biadab seperti Firman.

        “Shaq, aku merasa sangat bahagia hari ini. Semua bebanku terasa hilang dari pundakku. Terimakasih ya, kamu udah mau membantuku, aku tak tahu harus bagaimana untuk membalasnya. Tapi, yang aku tak mengerti kenapa kamu mau merelakan uang tabunganmu untuk melunasi hutang keluargaku?”
tanya Shafa dengan nada serius.

        “Fha, sebelumnya aku minta maaf jika perkataanku nanti akan menyakitimu. Sebenarnya aku telah lama mencintaimu. Aku tak rela jika kamu menikah dengan orang yang tidak baik. Sekarang kamu telah mengetahui perasaanku yang sesungguhnya. Untuk selanjutnya terserah kamu.” kata Yishaq dengan menunduk. Ia tak kuasa apabila nanti melihat Shafa membencinya.

        Air mata Shafa kembali berjatuhan. Namun kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan air mata bahagia karena orang yang selama ini dicintainya, juga mempunyai perasaan yang sama. Sejenak ia merasakn betapa indah sebenarnya kasih Tuhan-Nya.

        “aku bahagia Shaq mendengar penuturanmu, sangaaaaaaaaat bahagia. Aku tak tahu harus mengatakan apalagi untuk mengukapkan rasa bahagiaku ini”. Kata Shafa dengan penuh kebahagiaan.

        Suasana malam itu berubah menjadi haru, dua anak manusia telah mengetahui perasaan masing-masing. Hal yang tak pernah di duga oleh Yishaq bahwa Shafa juga mencintainya.